Orang melihatku sebagai sosok yang kuat, mandiri dan ceria. Mungkin beberapa dari mereka memandang hidupku sempurna. Ya, memang aku ingin terlihat kuat. Suatu kali ada seorang kawan memberiku julukan “penyu” dari luar nampaknya kuat tapi dalamnya lembek katanya. Mungkin begitulah aku, setidaknya aku bisa setuju dengan pandangannya tentang diriku saat ini.
Aku tidak ingin ada orang yang memandangku rendah ataupun lemah. Aku ingin terlihat sebagai wanita yang kuat meski hal itu melelahkan terkadang. Saat aku bisa memberi warna dalam kesedihan orang lain, aku sangat senang. Namun terkadang ada masa di mana aku benar-benar lemah dan rapuh. Di saat itupun sebagian dari diriku tidak terima kalau aku terlihat rapuh. Seolah ia berkata “berhentilah mengasihani dirimu sendiri. Siapa yang peduli padamu.” Namun separuh diriku lainnya menagangap sudahlah mungkin ini saatmu untuk berhenti terlihat kuat. Kamu tidak sekuat itu, kamu manusia biasa, jangan pendam semuanya sendiri. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Berteriak jika kau ingin berteriak, menangis jika itu membuatmu lega, katakan pada siapapun apa yang ingin kau sampaikan. Dan saat ini aku hanya berpikir, mungkinkah ada yang peduli jika aku melakukan semua itu atau malah mereka akan menjauh karena bukan energi positif yang kuberikan kali ini. Akankah ada yang peduli saat aku menceritakan betapa rapuhnya diriku.
Air mataku mengalir meski aku tak ingin. Aku tak tahu lagi bagaimana harus menahannya. Kucoba meneguk segelas teh hangat yang kucampur dengan madu untuk menenagkan diriku. Mungkin ini bisa membantu. Aku tidak tahu apa yang kuingini saat ini. Akankah ada orang di luar sana yang mengerti aku? Jauh dalam hati, kutahu Tuhan mengerti.
