Relationship Issue (Lembar 1)

Semalam aku menyadari satu hal. Mungkin sekedar tamparan bagi diriku sendiri atau entahlah. Kejadian 16 tahun lalu tiba-tiba kembali menghantui hidupku dan memberi tuduhan bagi diriku. Sejujurnya aku hampir tidak pernah membahas atau bahkan sekedar sengaja mengingatnya. Yang kuketahui saat ini adalah aku memiliki masalah dalam berhubungan dengan orang. Aku tidak pernah punya niat buruk atau dengan sengaja melakukan hal yang jahat terhadap orang lain, namun seringkali aku menjadi penyebab rusaknya hubunganku dengan lingkunganku. Semalam, aku merasa bahwa aku manusia gagal, perusak segala hal. Dan kembali air mata menetes di pipiku. Aku mencoba kuat meski belum sanggup sepenuhnya menahan air mata itu.

Aku sering menyalahkan diriku sendiri, namun akupun tidak tahu mengapa hal-hal tertentu bisa terjadi.

Semalam aku pergi ke suatu pertemuan dan ada seseorang menyampaikan pesan ini. Tidak percis kata-katanya, namun ada beberapa poin yang kucatat.

Lawannya takut adalah tidak takut

Dalam mengasihi, selalu ada resiko ditolak, dikecewakan, dikhianati, dimusuhi, dan sebagainya. Itulah mengapa orang takut mengasihi karena manusia umumnya mengasihi karena … (Conditional Love), sedangkan kita seharusnya mengasihi walaupun … (Fearless Love)

Karena Mengasihi adalah Keputusan

Kata-kata itu membawaku pergi ke 16 tahun silam. Aku ingat dan sadar mengapa aku menjadi aku yang mengasihi penuh ketakutan. Takut kehilangan, takut ditolak dan takut dikecewakan. Sungguh aku sangat takut, mungkin beberapa orang akan menganggapku berlebihan. Akupun menganggap hal itu berlebihan. Aku selalu berusaha menampilkan diriku sebagai sosok manusia yang tidak kenal rasa takut, namun aku paling rapuh dalam hal ini.

Aku mulai memikirkan mengapa aku seperti ini, dan aku akan menceritakan asal mulanya. Mungkin akan sangat panjang dan akan kubagi menjadi beberapa bagian. Cerita itu bermula dari sekitar 17 tahun lalu kakakku mengajakku ke gereja karena ia diajak temannya. Di gereja yang mula-mula aku menanamkan imanku itu, aku dipercaya untuk membantu kakak di sekolah minggu. Ada beberapa anak remaja lainnya yang membantu di sana. Karena saat itu masa-masa puberku, mungkin aku melakukan beberapa hal yang memalukan, seperti terjebak cinta monyet atau cinta lokasi dengan teman sejawat namun tidak berani menyampaikannya. Aku hanya bercerita dengan temanku yang mengenal kami berdua dan singkat cerita anak laki-laki yang kutaksir itu tahu tentang perasaanku dan akupun salah tingkah. Aku mencoba menghubunginya dan bahkan saat ini aku sudah tidak ingat apa yang kusampaikan, namun aku masih ingat yang keluar dari mulutnya adalah cacian, makian dan kata-kata lainnya yang merendahkanku. Salah satunya yang masih kuingat samar, ia berkata mana ada cowo yang mau sama kamu, udah gendut, jelek dan mungkin beberapa kata kebun binatang lainnya. Aku tidak pernah mendapat cacian seperti itu seumur hidupku, namun kata-kata itu membuat gambar diriku rusak dan aku membalasnya dengan berkata, lihat saja tahun depan aku sudah bisa punya pacar yang jauh lebih baik darimu sambil aku menangis di tempat tidurku.

Ya aku cenggeng, dari dulu aku cenggeng dan aku benci diriku yang cenggeng sebenarnya sehingga aku memutuskan untuk selalu bersikap kuat dan tidak akan lagi menangis terutama untuk laki-laki. Meski ternyata kadang aku tetap menangis.

Dan kenyataannya 1 tahun sejak peristiwa itu, akupun tidak memiliki pasangan. Gambar diriku rusak dan aku hidup dalam perasaan tidak aman dengan diri sendiri. Aku tetap berbuat baik dan entahlah mungkin aku bodoh karena rasa kasih dan kepedulian di hatiku untuk lingkunganku selalu ada dan tidak jarang aku dikecewakan karenanya.

Image result for broken self image

Leave a comment