Relationship Issue (Lembar 2)

Aku terus mencari siapa yang mau dengan anak perempuan dari keluarga sederhana, tidak pandai bergaul (ya saat itu aku cukup minder di sekolah menengah pertama), gendut dan jelek seperti kata laki-laki yang tidak patut kudengarkan sebenarnya. Bayangkan laki-laki macam apa yang memperlakukan perempuan seperti itu, namun saat itu kata-kata itu begitu berpengaruh bagiku. Mungkin aku dengan mudah tidak memikirkan hal itu, namun hal itu tertanam di diriku. Aku ingin mencari laki-laki yang mau berhubungan denganku lebih dari teman untuk membuktikan padanya bahwa aku mampu mendapat yang lebih baik darinya. Meski sebenarnya tidak lama setelah kejadian itupun aku sudah hampir tidak pernah bertemu dengannya karena ia pindah tempat tinggal. Hasratku untuk mebalas rasa sakit yang diberikan sudah ada namun siapa yang akan tertarik juga padaku saat itu karena aku begitu pendiam dan minder. Aku lelah dengan keheninganku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah sekolah ketika aku masuk Sekolah Menengah Atas. Aku mulai belajar cara bergaul dengan melihat bagaimana orang lain mencari teman. Aku mengikuti cara mereka, kadang canggung tapi aku cukup berhasil ternyata untuk memperoleh beberapa teman. Aku tidak sependiam dulu. Yang kutahu aku harus menyenangkan untuk bisa diterima. Aku memiliki beberapa orang yang kukagumi dalam mencontoh. Meski tidak semua kuambil hal positifnya. Hal negatif lebih keren menurutku saat itu. Aku kagum karena rasa percaya dirinya meski aku mampu mengamati kekurangan mereka, tapi aku kagum karena mereka tidak seperti aku yang kerap fokus pada kelemahan. Mereka rasanya lebih aman dengan dirinya sendiri.

Ada kebutuhan untuk bisa diterima. Dan begitu aku punya teman, tanpa kusadari aku tak ingin kehilangan mereka apalagi setelah kakak perempuanku pergi melanjutkan pendidikan ke luar negeri, aku benar-benar merasa kehilangan dan aku tidak ingin kehilangan teman-temanku saat itu.

Oiya aku punya seorang kakak laki-laki dan perempuan. Aku tidak terlalu dekat dengan kakak laki-lakiku tapi aku sangat dekat dengan kakak perempuanku. Apalagi saat itu kami tidur di kamar yang sama. Mungkin itu yang menumbuhkan kedekatan di antara kami.

Kembali ke pertemananku dulu di SMA, aku menemui masalah. Saat itu aku tergabung dalam suatu genk. Bukan genk anak nakal yang populer melainkan hanya sekelompok orang yang asik ngobrol dan pergi bersama saja. Suatu kali seorang dari teman di kelompok itu sering meminta waktuku untuk mengobrol berdua saja. Dia mungkin nyaman mengobrol denganku dan tiba-tiba teman lain di kelompok itu suatu malam menelponku dengan mengancam jika -sebut saja A- masih curhat hanya denganku, sebaiknya A tidak usah lagi bergabung dengan kelompok mereka.

Aku, seorang yang nampak berani, namun kini kusadari aku adalah orang yang kerap menghindari konflik. Aku mundur teratur dengan kekecewaan, karena yang menelpon adalah teman yang cukup baik juga denganku. Aku sering main ke rumahnya. Dan kejadian itu membuat aku menjauh dari kelompok itu. Mungkin itu salah satu kegagalanku meski bukan kesalahanku dan aku hanya melakukan hal yang kuanggap baik, akupun mencari teman lainnya tanpa memperjuangkan apapun dari pertemanan itu. Ya aku kehilangan, aku kecewa, tapi aku kembali tidak ingin memikirkannya.

Aku mulai memiliki teman-teman baru. Dan tidak terasa masa-masa kelulusan sudah dekat. Aku sedih ketika pria yang kutaksir hendak melanjutkan sekolah ke luar negri, aku tak sanggup mengantarnya ke bandara. Aku hanya menangis sendiri di kamar melepas kepergiannya. Dan beberapa tahun berlalu kami masih suka mengobrol dengan bantuan sosial media hingga kemudian kuketahui ia menyukai wanita lain dan aku kembali menjuah. Entah aku mungkin pengecut yang selalu menghindari konflik, tidak berani menyatakan apa yang kurasa dan cenggeng. Namun selain itu, teman-temanku yang dekat denganku di SMA pun pergi melanjutkan sekolah ke luar negri. Aku masuk ke universitas di Jakarta dan tidak ada seorangpun dari teman di kampusku yang masuk ke universitas itu. Aku sempat kecewa ketika ibuku tak mengizinkan aku kuliah di Malaysia dengan temanku. Meski kini aku tahu bahwa keluarga kami tidak memiliki keuangan yang cukup untuk memberikan anaknya pendidikan di luar negeri. Satu anak di luar negeri saja sudah menjadi beban yang sangat berat. Lagipula akupun tidak sepintar kakakku. Mungkin nilai akademisku lah yang paling buruk. Satu-satunya alasanku ke luar negri hanya untuk pergi bersama temanku.

Ya, menurutku Tuhan tahu yang terbaik. Tapi dari setiap kehilangan selalu ada musim baru di hidupku. Kadang aku harus mengalami kegagalan yang sama mungkin karena aku belum lulus dalam level tertentu.

Related image

Leave a comment