Selain pergaulanku di sekolah, sejak kelas XI, aku merasa mungkin aku butuh komunitas rohani untuk pertumbuhan imanku. Aku yang selama ini berbeda gereja dengan orangtuaku, akhirnya mencoba bertanya pada mereka tentang komunitas pemuda di gerejanya. Suatu sabtu sore akupun datang ke sana. Namun aku terkejut sesampainya di sanarolling door masih terkunci. Tidak lama setelah aku tiba, dua orang pembina di komunitas itupun tiba. Aku bertanya apa mungkin aku salah jadwal, namun mereka menjelaskan bahwa seperti itulah keadaannya. Komunitas itu sepi, dan hampir tidak ada yang datang.
Saat itu aku sudah bisa menyetir mobil meski belum resmi memiliki SIM karena usiaku masih 16 tahun, dan kami membuat rencana untuk mengunjungi anak-anak yang dulunya pernah tergabung di komunitas itu dan mengajak mereka kembali. Selang beberapa bulan, kami mulai mendapat anggota. Meski belum terlalu banyak, namun kami sudah mulai bisa melakukan ibadah kecil dan saya senang dengan apa yang saya lakukan saat itu. Tahun demi tahun berjalan, kondisi kami semakin baik hingga 2tahun kemudian jumlah kami sudah semakin banyak. Kami bisa ibadah dengan lebih asik, ada kedekatan di antara kami. Dan mungkin meski saya hanya “tukang bantu-bantu” dalam komunitas ini, anak-anak cukup memandang saya sebagai seorang yang mereka tuakan. Hingga suatu hari mungkin usiaku sudah hamir menginjak 20 tahun, ada seorang anak perempuan, usainya lebih muda 2 tahun dariku, mengagumi dan menyukai aku. Aku tak ingin membahas ini terlalu jauh mungkin nanti akan ada bahasannya sendiri karena ada perasaan yang harus kujaga. Kami saat itu berhubungan cukup jauh hingga orantguanya memergoki kami, dan bukan hubungan kami saja yang hancur, namun masalah ini dibawa hingga mempengaruhi bubarnya komunitas kami kurang lebih 1 tahun sejak kami berhubungan.
Aku merasa gagal, sangat gagal. Gagal dalam membangun hubungan yang benar dengan orang yang kukasihi sekaligus menghancurkan komunitas yang telah dibangun hampir 5tahun itu. Semua rasanya sia-sia, aku menyalahkan diriku sebagai orang yang menghancurkan segalanya. Hidupku kacau, meski aku pernah mengatakan pada wanita itu, aku tidak ingin terlalu dekat dengan orang karena aku takut merasakan kehilangan kembali, namun wanita itu berjanji untuk tidak meninggalkan aku. Hasilnya, hubungan yang tidak seharusnya ada itupun, semakin tidak bisa dikendalikan layaknya romantisme anak muda dan berujung pada kejatuhan dan kehancuran dalam hidupku. Dan aku lari dari masalah meski aku tak ingin karena memang pada saat itu sepertinya tidak ada ada jalan untuk mempertahankan komunitas itu. Lagipula akupun malu pada diriku sendiri, sudah tidak tahu apa yang harus kuperbuat.
Aku coba memulai hidup baruku, aku dipercayakan untuk membantu lagi di komunitas pemuda di gereja itu beberapa waktu kemudian. Cukup berhasil namun kembali ada konflik dan aku merasa tidak nyaman. Dan kembali aku lari lagi. Dramaku kembali terulang, aku menjauh dan hidupku makin jauh dari kata relationship! Aku selalu gagal dalam hal itu meski hanya dalam batas pertemanan. Aku mulai kecewa, engan rasanya untuk beribadah apalagi melayani. Dengar-dengar sejak masalah itupun jumlah anak-anak di komunitas itu menurun. Betapa aku merasa begitu gagal, bukan? Aku sempat berpikir bahkan sampai sebelum menulis cerita inipun, aku merasa bahwa diriku adalah orang yang dapat diandalkan dan bertanggung jawab atas perbuatanku, namun ketika kutuliskan ini, aku baru menyadari sepertinya aku terlalu tinggi menilai diriku.
Semua pengalaman buruk ini tiba-tiba saja menghantui hidupku yang sudah mulai kubangun lagi sejak kira-kira November 2015. Saudara dekatku mengajakku ke satu gereja. Aku malas awalnya, namun setelah kali ketiga ia mengajakku, akhirnya kuiyakan saja ajakannya tanpa ekspektasi apapun. Namun hal yang tak kuduga terjadi. Aku merasa Tuhan begitu mengasihi aku dan tak henti air mata ini mengalir sepanjang ibadah. Sejak itu aku berkomitmen dalam hatiku bahwa mulai 2016, aku akan jadi jemaat tetap di gereja itu
Hei, sejujurnya aku tidak ingin bicara masalah agama, namun banyak hal yang terjadi dalam hidupku yang kusadari ini pekerjaan Tuhan dan aku tidak bisa tidak mengaitkannya meski aku engan. Aku bukan orang yang terlalu religius bahkan akupun menilai diriku sendiri tidak pada kapasitas untuk menasihati orang lain secara religius.
