Dunia ini mendefinisikan kebebasan sebagai kehidupan tanpa kendali atau batasan. Kebebasan berarti saya bisa melakukan apapun yang ingin saya lakukan dan mengatakan apapun yang ingin saya atakan tanpa seorangpun bisa kasih tahu apa yang harus saya lakukan. Yang dunia ajarkan adalah kebebasan yang egois, kebebasan yang berfokus pada diri sendiri, tidak peduli apa dampak yang ditimbulkan bagi orang lain, yang terpenting adalah hasrat hati selalu terpenuhi. Kenyataannya, itu bukanlah kebebasan. Dalam kebebasan selalu ada batasan, karena batasan sebenarnya ada untuk kebaikan manusia, untuk melindungi manusia dari hal-hal berbahaya dan melindungi harmonisasi hubungan sesama manusia. Misalnya, dalam pertandingan sepakbola, bayangkan jika tidak ada aturan, bukan pertandingan yang menarik yang akan kita saksikan, melainkan pertandingan yang penuh dengan kekacauan.
Tanpa batasan, kebebasan merupakan awal dari kekacauan.
-VE
Kebebasan sejati adalah melalui Yesus (Yohanes 8:36). Kebebasan sejati adalah kebebasan dari rasa takut, bersalah, khawatir, kepahitan dan kematian. Kita bebas untuk keluar dari kepura-puraan karena kita bebas untuk menjadi diri kita sendiri.
Untuk punya kebebasan sejati, kita harus membiarkan Tuhan mengasihi kita. Karena dalam kasih tidak ada ketakutan dan kasih sejati mengalahkan ketakutan (I Yohanes 4:18a).
Sama halnya dalam memilih teman. Kita punya kebebasan dalam memilih dengan siapa kita mau bergaul, meski begitu kitapun memiliki panduan orang seperti apa yang kita izinkan memberi pengaruh dalam hidup kita. Oleh sebab itu dalam memilih temanpun kita perlu berhati-hati (Amsal 12:26). Dengan siapa kita bergaul akan menentukan orang seperti apa kita ke depannya. Lebih dari memilih teman untuk bergaul, kita juga perlu lebih berhati-hati lagi ketika memilih pasangan hidup. “Jodoh di tangan Tuhan” hanyalah mitos, karena kenyataannya manusia memilih sendiri siapa yang ingin ia jadikan pasangannya. Tuhan memimpin, menuntun dan memberikan panduan (selalu ada batasan), tapi pilihan di tangan kita. Mitos lainnya adalah, cinta cukup untuk sepasang kekasih memutuskan untuk menikah. Hanya karena kita mencintai seseorang, tidak kemudian hal itu menjadi satu-satunya alasan kita menikahinya. Tuhan tidak memberi tahu orang seperti apa yang harus kita nikahi, namun ia memberi penjelasan orang seperti apa yang Ia ingin kita nikahi. Jika kita inginkan perkenanan dan penjagaan Tuhan dalam pernikahan dan mau berhasil dalam pernikahan, maka kita perlu mendengarkan apa yang Tuhan sampaikan tentang orang yang Tuhan ingin kita nikahi (Filipi 2:3).
Dalam lingkup yang besar, dapat pula kita ambil contoh dari suatu negara merdeka, ketika mereka memperoleh kemerdekaan, mereka perlu pertama-tama merumuskan aturan-aturan dalam menjalankan negara. Karena tanpa aturan, maka kemerdekaan itu akan segera berubah menjadi kekacauan.
Kebebasan yang disertai penundukan diri pada batasan yang ada akan melahirkan kemerdekaan yang sejati.
