Persepsi

Manusia seringkali punya stereotype yang dibangun dalam pikiran mereka sejak mereka masih kecil. Salah satu stereotype yang paling banyak diperbincangkan adalah masalah SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) dan gender. Berbicara stereotype yang berkaitan dengan SARA, rasanya masalah itu menimbulkan dampak yang masif. Namun hari ini, sehubungan dengan peringatan hari Kartini yang baru saja berlalu 21 April kemarin, saya ingin lebih melihat stereotype yang dibangun berdasarkan gender (laki-laki dan perempuan). Kutipan R.A. Kartini menggelitik saya untuk menuliskan hal ini.

Bukan laki-laki yang hendak lawani, melainkan pendapat kolot dan adat usang.

Sejujurnya hal ini begitu mengganggu saya. Pandangan orang seperti laki-laki harus berambut pendek dan perempuan harus berambut panjang, perempuan harus bisa masak supaya bisa mengurus laki-laki, pekerjaan berat hanya untuk kaum laki-laki, wanita tidak seharusnya berotot, wanita harus langsing dan laki-laki gemuk menunjukkan ia dirawat dengan baik oleh istrinya, wanita harus pandai merias wajah, dan masih banyak lagi lainnya. Saya tidak bilang hal itu salah atau jelek, tapi dengan stereotype pria dan wanita seperti ini, yang muncul kemudian adalah jika ada pria atau wanita yang tidak seperti itu, kemudian dipandang aneh dan berbeda bahkan cenderung “dihakimi” atau diberi label tertentu.

Untuk memudahkan pengertian ini, saya beri contoh nyata mengenai apa yang saya pribadi alami. Kita semua bisa mengalaminya dalam berbagai bentuk yang berbeda, namun ini yang saya rasakan dan alami.

Saya wanita yang sangat tidak suka memanjangkan rambut. Hampir selalu rambut saya pendek, bahkan sudah lama sekali saya ingin memotong rambut sangat pendek, namun selalu takut akan cap yang akan diberikan orang pada diri saya. Ya, mungkin waktu kecil saya tidak tomboy, namun seiring berjalannya waktu saya merasa lebih nyaman dengan gaya tomboy, namun hal ini sama sekali tidak mengubah hal bahwa saya adalah wanita sejati, sama seperti wanita lainnya hanya beda selera dalam bergaya. Bukankah perbedaan selera itu wajar? Kemudian saya semakin tumbuh menjadi wanita yang mandiri, kuat, berani, pekerja keras, dan mempunyai visi. Kemudian orang berkata, ” kau seperti laki-laki.” Saat ini saya bisa menuliskan hal ini karena saya sudah merasa aman dengan diri sendiri. Tidak terlalu peduli apapun kata mereka, tapi bukan untuk beberapa tahun silam.

Beberapa tahun lalu jika orang berkata saya tomboy, seperti laki-laki saya sedikit terganggu tapi yang lebih parah saya menyimpan dalam hati sambil berpikir apa iya saya seperti itu? Apa iya saya bukan wanita seutuhnya? Apa iya saya tidak memikat bagi laki-laki, tapi saya lebih cocok jalan dengan perempuan? Dan saat ini saya malah ragu dan berpikir apa iya identitas saya ditentukan dari potongan rambut atau kemandirian saya? Apa gunanya kelamin dan alat reproduksi jika demikian adanya? Mohon maaf jika penggunaan bahasa saya mengganggu, tapi itu kenyataannya.

Saya merasa saya berbeda dari wanita lainnya. Saya tidak pernah menganggap bahwa merias wajah adalah bagian terpenting sampai-sampai sebagian besar wanita enggan keluar rumah tanpa lebih dulu merias wajahnya. Dalam hal ini saya tidak masalah jika mereka suka, tapi banyak juga yang terpaksa melakukannya karena tuntutan lingkungan dan atas dasar “apa kata orang”. Bagi saya wanita cantik apa adanya sama seperti laki-laki tampan tanpa riasan. Saya bangga dengan diri saya, saya menerima diri sendiri apa adanya dan terbuka untuk terus mengembangan diri ke hal positif. Meski begitu untuk beberapa pertemuan yang memang memerlukan penampilan lebih rapi saya bisa menyesuaikan diri.

Saat ini dengan latang saya berani berkata pada siapapun yang men-gender-kan saya berdasarkan penampilan bahwa orang itu terlalu kolot dan hanya terintimidasi dengan kekuatan dari wanita hebat. Mungkin kalian bertanya apa saya berpikir bahwa saya wanita hebat? Tentu saja. Bagi saya semua orang hebat ketika dia berani berjuang untuk dirinya, kehidupannya dan apa yang diyakini. Bukan orang yang berjuang menjadi seperti yang diinginkan lingkungan, menyenangkan orang lain dengan mengorbankan kapasitas diri sendiri. Atau untuk menjaga perasaan orang yang tidak bisa menjaga perasaan orang lain, saya memilih untuk tidak mengubris sama sekali apapun pandangan mereka, toh bagi mereka, merekalah orang paling sempurna. Mungkin tulisan ini bisa menyinggung orang yang memang suka men-gender-kan seseorang sama seperti ketika orang-orang dangkal itu menyinggung perasaan orang yang mereka gender-kan.

Bukan warna kulit, model rambut, gaya berpakaian, selera musik, hobi yang menentukkan gender seseorang. Ketika seseorang men”gender”kan orang lain berdasarkan hal-hal di atas, sama saja menghina penciptanya. Seperti tulisan saya yang lalu, semua orang diciptakan unik dan berbeda. Tidak semua wanita suka rambut panjang, sama seperti tidak semua laki-laki suka rambut pendek. Tidak semua wanita makan salad di kencan pertama dan tidak semua laki-laki membawa bunga dan menjemput wanitanya di kencan pertama. Hidup tidak harus di stereotype-kan. Belajar menghormati dan menghargai orang lain dan segala perbedaannya. Dan bagi yang selama ini merasa dikucilkan atau aneh atau terasing karena stereotype yang diciptakan lingkungan, belajarlah mengasihi dirimu sendiri. Nilai dirimu tidak bergantung pandangan orang yang dangkal tentang engkau. Kitalah yang paling tahu nilai tertinggi diri kita. Jangan biarkan seorangpun merampas hakmu untuk menjadi dirimu sendiri.

Mungkin jika saya bisa mengaitkan sedikit lebih jauh, saya ingin kita belajar melihat dampak lainnya. Tidak heran juga jika hal ini berdampak pada LGBT yang semakin marak. Mungkin diawali dari perasaan berbeda yang mereka rasakan dari mayoritas. Dan ketika mereka DIHAKIMI mereka tidak seperti yang lain, mereka mulai mengiyakan dan merasa tertolak dan tidak dikasihi. Mereka diterima dengan sesama yang juga merasa tertolak dan tidak dikasihi dan mereka bisa lebih saling menerima dan mengasihi. Kemudian setelah LGBT punya komunitas sendiri, mayoritas menghujat mereka pembuat maksiat. Sadarlah! Koreksi diri sendiri. Berhenti menghakimi. Semua yang dibutuhkan manusia adalah perasaan diterima dan dikasihi. Kalau kita mau buat dunia jadi tempat yang lebih baik. Belajar mengasihi orang yang berbeda dan berhenti merasa sempurna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s