Sebuah buku yang awalnya tidak ingin kubeli namun kubeli juga karena aku suka dengan penulisnya, Craig Groschel. Salah satu Pastor kesukaanku. Pesan yang beliau sampaikan sangat menginspirasiku, begitu juga dengan buku “Hope in the Dark” yang baru saja selesai kubaca.
Membaca buku ini menimbulkan beberapa pertanyaan untuk Tuhan karena ternyata Tuhan tidak masalah dengan pertanyaan kita. Dalam keraguan, kita dapat menemukan iman. Seperti yang dikatakan Pengkhotah, manusia tidak bisa menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh 3:11). Ya, memang benar manusia penuh keterbatasan dan kita kadangkala tidak sabar menantikan akhir pekerjaan Allah dalam hidup kita, kadang kita bisa merasa menyerah dan ragu kemudian bertanya apa ini yang memang Tuhan mau aku lalui? Tapi mengapa begitu sulit? Bukankah bersama Tuhan kita mampu melakukan perkara besar? Ya, untuk itu kita perlu iman. Kita bisa bicara tentang iman ketika kita dalam situasi yang rasanya sudah tidak ada jalan, namun kita memutuskan untuk terus percaya pada Tuhan. Dalam iman dibutuhkan kesabaran untuk menunggu waktunya Tuhan. Menunggu dengan keyakinan bahwa waktunya yang terbaik, namun dapatkan kita sabar menanti?
Kadangkala aku seolah merasa bahwa aku tahu apa yang menjadi minatku, hal yang aku dapat lakukan dengan baik dan penuh semangat (passion). Katanya passion itu bisa jadi ladang panggilan kita. Rasanya aku ingin mengeluti apa yang kurasa adalah panggilanku, namun kenyataan tidak semudah berbicara.
Paulus menuliskan hal ini dalam Roma 7:18-24. Aku akan menuliskannya karena ini jelas sekali:
Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.
Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. AKU, MANUSIA CELAKA! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
Seolah aku sedang berbicara dengan diriku sendiri, aku tahu apa yang baik, aku tahu apa yang seharusnya kulakukan, namun aku kembali mengambil langkah yang salah, jatuh ke dalam lubang yang sama, tidak bisa menguasai keinginanku yang bertentangan dengan hukum yang kutahu di akal budiku. Aku merasa AKU MANUSIA CELAKA! Aku mau melakukan apa yang baik, yang berkenan di hadapan Tuhan, tapi aku menyerah pada diriku sendiri. Aku hanya berharap Tuhan tidak menyerah denganku. Aku mau melakukan yang baik, namun bukan yang baik yang kulakukan, melainkan yang jahat, tepat seperti yang Paulus katakan. Kemudian muncul pertanyaan ini kepada Tuhan: Mengapa Tuhan mengizinkanku kalah pada kehendakku sendiri, seolah aku tidak mampu menguasainya dan ini seperti duri dalam dagingku. Paulus pun punya duri dalam daging (2 Korintus 12:7), yang entah apa itu dan aku merasakan hal serupa. Aku tidak mengerti, aku tidak sanggup dan karena itulah aku perlu Tuhan. Mungkin jawaban-Nya akan tetap sama, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 2:9). Meski aku belum dapat bermegah dalam kelemahanku, malah aku merasa malu pada diriku sendiri.
